Risiko dan Hasil (Risk and Return) Berinvestasi di Saham

Setiap produk investasi, selain menjanjikan potensi keuntungan (hasil/return), juga mengandung risiko (risk). Jadi, jangan pernah percaya jika ada produk investasi yang menjanjikan hasil/keuntungan dan tidak memiliki risiko. Prinsipnya adalah bahwa semakin tinggi risiko suatu produk investasi maka semakin tinggi tingkat hasil/return yang diharapkan oleh si pelaku investasi karena potensi hasil/keuntungan tersebut merupakan kompensasi atas tingkat risiko yang harus dia tanggung atas investasi yang dilakukannya. Jadi, produk investasi yang berisiko rendah, seperti: tabungan, deposito, dan reksadana pasar uang, akan memberikan imbal hasil/return yang rendah juga. Produk investasi yang berisiko lebih tinggi lagi, seperti: reksadana pendapatan tetap, “menjanjikan” imbal hasil/return yang lebih tinggi. Akhirnya, produk investasi yang berisiko paling tinggi seperti: reksadana campuran, reksadana saham, investasi atau dagang saham juga “menjanjikan” imbal hasil/return yang paling tinggi juga. Karena imbal hasil/return yang akan diterima adalah di masa depan maka terdapat ketidak-pastian di dalamnya. Ketidak-pastian tersebut dalam hal nilai sehingga faktor kecakapan seseorang (i.e. kompetensi) dalam hal pengelolaannya akan berpengaruh besar dalam pencapaiannya.

Lalu apakah risiko dan imbal hasil dari berinvestasi di pasar saham? Secara teori, ada 2 risiko, yaitu potensi kerugian dalam bentuk: capital loss dan total loss (investment loss). Yang dimaksud dengan capital loss adalah potensi kerugian kerugian karena turunnya nilai pasar saham yang diinvestasikan. Misalnya, seseorang membeli saham TLKM seharga Rp3.900 per lembar dan ternyata di hari perdagangan berikutnya saham TLKM diperdagangkan di harga Rp3.800 per lembar. Berarti terjadi potensi kerugian (unrealized loss) senilai Rp100 per lembar atau -2,56%. Kerugian tersebut sifatnya belum terealisasi (unrealized) selama saham tersebut belum dijual. Jika dijual pada harga tersebut maka kerugian terjadi/terealisasi. Kerugian dalam bentuk total loss (investment loss) terjadi jika saham perusahaan yang kita investasikan di kemudian hari ternyata dinyatakan bangkrut (dilikuidasi) secara hukum. Karena investasi kita nilainya kecil pada perusahaan tersebut dan prosedurnya untuk mendapatkan ganti ruginya cukup panjang yang menyita waktu dan dana, maka dalam kondisi tersebut dianggap telah terjadi kerugian berupa hilangnya seluruh dana yang kita investasikan pada perusahaan/saham tersebut (total loss/investment loss). Jika ingin sedikit lebih rinci mengenai berapa yang dapat diperoleh kembali oleh seorang investor jika perusahaan/saham yang diinvestasikan dilikuidasi, silahkan klik disini.

Imbal hasil/keuntungan atau return dari berinvestasi di saham terdiri dari: capital gain, dan dividen (dividend). Capital gain adalah keuntungan yang diperoleh karena naiknya harga pasar suatu saham di kemudian hari. Misalnya, seseorang membeli saham TLKM seharga Rp3.900 per lembar dan ternyata di hari perdagangan berikutnya saham TLKM diperdagangkan di harga Rp4.000 per lembar. Berarti terjadi potensi capital gain (unrealized) senilai Rp100 per lembar atau 2,56%. Keuntungan tersebut akan terealisasi (realized) pada saat saham tersebut dijual. Dividen adalah sebagian atau seluruh bagian dari laba bersih yang diperoleh perusahaan yang didistribusikan kepada pemilik sahamnya (shareholders/investor). Dividen tersebut biasanya dibagikan dalam bentuk tunai (kas) tetapi terkadang ada juga emiten yang juga membagikan dividen dalam bentuk saham.

Lalu bagaimana caranya seorang investor/trader memaksimalkan keuntungan/profit dan meminimalkan risiko/kerugian? Jawabannya tidaklah sederhana. Tetapi, jika anda tetap menginginkan sebuah jawaban yang sederhana, maka berikut ini ada 3 (tiga) petunjuk yang dapat membantu anda, yaitu:

  1. Perusahaan/emiten dilikuidasi terjadi karena emiten tersebut tidak dapat memenuhi kewajibannya (pembayaran hutang dan bunga) kepada krediturnya secara konsisten dan tepat waktu. Oleh karena itu, berinvestasilah pada perusahaan-perusahaan/emiten yang hutangnya kecil atau hidupnya tidak tergantung dari hutang. Secara umum, berinvestasilah pada perusahaan/emiten yang “Debt to Equity Ratio-nya” lebih kecil dari 1 (DER < 1). Sebaliknya, hindari berspekulasi pada emiten-emiten yang hutangnya besar atau hidupnya tergantung dari hutang.
  2. Capital loss dapat terjadi karena: market sedang volatile, kinerja keuangan perusahaan sedang menurun atau mengalami kerugian, atau kondisi ekonomi/politik sedang tidak mendukung. Untuk meminimalkan risiko ini, berinvestasilah pada emiten yang konsisten menghasilkan laba. Lebih bagus lagi, berinvestasilah pada perusahaan/emiten yang labanya bertumbuh (meningkat). Dan bersabarlah walaupun respon market terhadap kinerja keuangan emiten yang baik tersebut berlawanan. Jangan buru-buru cut loss. Sekali lagi, bersabarlah selama kinerja keuangan perusahaan/emiten masih bagus. Dalam jangka menengah/panjang, respon market lebih sering berkorelasi positip terhadap kinerja keuangan perusahaan/emiten.
  3. Berinvestasilah pada emiten yang konsisten membagikan dividen kepada shareholder-nya. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, ada risiko dalam setiap investasi sehingga sudah wajar jika diberikan kompensasi atas risiko tersebut, antara lain melalui pembagian dividen. Jika suatu emiten sudah berada pada tahapan matang (mature), berinvestasilah pada emiten yang dividen payout ratio-nya (DPR) tinggi.

 

Semoga bermanfaat 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s